Rabu, 20 April 2016

klik download untuk novel Naked Raine miller

<a href=”http://adf.ly/12353985/http://w4pscript.wapka.mobi/site_file_details.xhtml?get-file=705” target=”_blank”><b>DOWNLOAD</b></a>

Kamis, 25 September 2014

dear botak..
kamu tau gak? sejak aku kenal kamu, aku merasa nyaman banget..
kamu selalu bikin aku ketawa, kamu beda sama lelaki yang aku kenal
kamu baik, kamu lucu, kadang aku ketawa hanya karna lihat wajahmu yang polos bin blo'on itu kayak bernard :D


dear..
sebelum kita pacaran, kamu inget gak? waktu itu tahun 2013 ultahku yang seventeen ada temanku yang brharap "semoga kamu dapat pcar yg gak bikin nangis, tapi bikin kamu seneng". terus kamu juga berharap "happy birthday yah.. semoga cepet jadi pacarku :p". hahaha
yah aku rasa harapan temanku di kabulkan sama allah :) dan ternyata kita jadi pacaran haha
kenapa bisa kebetulan gini yah? :p

dear botak..
aku seneng banget bisa dapetin kamu, aku ngerasa hidup sama kamu, aku ketawa sama kamu..

dear botak..
aku tau kamu gak pernah bilang kalo kamu sayang sama aku, tp km hanya membuktikan kalo kamu sayang sama aku.. aku bangga sama kamu, kamu cinta pertamaku bi

I LOVE YOU PRATIDINA HABIBIE :* {}

Jumat, 08 Maret 2013

untukmu clark


kenapa gadis itu tak kunjung datang ??
apa dia lupa kalau harus menyiapkan kopi untukku ??
kemana gadis itu ?? malaikat kegelapanku ??
kemana Mia Clark ??

dia, dia...
dia telah pergi meninggalkan ku untuk selamanya...

...


saat ujung jariku menyentuh tuts-tuts piano,
yang ada dalam ingatanku saat itu adalah dirimu,
aku ingin memainkan "lagumu" untuk mu,
aku ingin kau duduk di sampingku, bersandar di bahuku,
aku ingin kau tersenyum untuk ku,
aku ingin kau memandangku dengan mata yang selalu menginspirasiku,
aku ingin kopi mu,
aku ingin dirimu,
aku tak bisa hidup tanpa mu Clark,
aku membutuhkan mu,
aku merindukan mu Clark,

aku mencintai mu Clark,
aku tau kau juga mencintai ku,
peluklah aku walau hanya dengan bayang mu,
aku sangat merindukan mu,

Mia Clark, dimanapun kau berada aku ingin kau mendengarkan "lagumu" ...

cuplikan "sunshine becomes you"





”Oh, celaka!” Mia terkesiap kaget ketika mengeluarkan ponsel dari tasnya. Alex Hirano sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tetapi Mia tidak menyadarinya karena ponselnya berada di dalam tasnya yang ditinggalkan di kursi penonton. Ia bergegas mengenakan celana jins dan sepatu, lalu berpamitan kepada guru tarinya.

Laki-laki itu pasti marah besar, pikir Mia cemas dan cepat-cepat menelepon Alex Hirano. Mia berlari-lari kecil menyusuri koridor di antara deretan kursi penonton ke arah pintu keluar.

Pada deringan kedua, suara Alex Hirano pun terdengar di ujung sana. ”Clark? Kenapa kau tidak menjawab teleponku?”

Mia mengernyit. ”Maaf,” katanya cepat. ”Aku tidak mendengar bunyi telepon.”

”Apakah kau tahu sudah berapa lama aku menunggu?”

”Maaf,” ulang Mia. ”Kau ada di mana sekarang? Aku akan segera ke sana.”

”Berhenti,” kata Alex Hirano tiba-tiba.

Mia otomatis berhenti melangkah walaupun ia tidak mengerti apa yang dimaksud laki-laki itu. ”Apa?”

”Ya, berhenti seperti itu,” kata Alex. ”Sekarang berputar ke kiri.”

Mia menuruti kata-kata Alex Hirano.

Dan mata Mia melebar kaget ketika melihat Alex Hirano duduk beberapa kursi jauhnya dari tempatnya berdiri. Laki-laki itu tersenyum kecil kepadanya sambil menurunkan ponsel dari telinga.

Mia mengerjap heran. Pertama, karena Alex Hirano tersenyum. Laki-laki itu belum pernah tersenyum kepadanya selama Mia mengenalnya. Alex memang sering tersenyum hambar dan sinis, tetapi itu tidak bisa dihitung sebagai ”senyuman”, bukan? Kedua, karena Alex Hirano ada di sana. Mia tidak tahu mana yang lebih mengherankan baginya.

”Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Mia sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah-olah mencari seseorang yang bisa menjelaskan kenapa Alex Hirano ada di sana, lalu kembali menatap laki-laki itu. ”Sudah berapa lama kau di sini?”

Alex Hirano memasukkan ponselnya ke saku celana dan berkata ringan, ”Omong-omong, kau sudah boleh menurunkan ponselmu.”

Mia tersentak dan menyadari ponselnya masih ditempelkan ke telinga. Ia buru-buru memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia baru ingin mengulangi pertanyaannya ketika Alex menyelanya.

”Jadi itu yang dinamakan tari kontemporer,” gumam Alex sambil memandang ke arah panggung, tempat para penari sibuk berlatih.

Mia tidak tahu apakah Alex Hirano sedang membicarakannya atau para penari di panggung itu. Apakah laki-laki itu melihatnya menari tadi?

”Aku tidak menyangka kau mendengarkan lagu-lagu Italia,” lanjut Alex sambil kembali menoleh ke arah Mia.

Oh ya, laki-laki itu sudah ada di sini ketika Mia menari tadi.

Mia mengangkat bahu dan membalas, ”Aku bahkan tidak menyangka kau tahu lagu itu lagu Italia.”

Alex Hirano menatap Mia dengan mata disipitkan, tetapi kali ini Mia tidak merasa ingin mundur teratur. Tatapan Alex kali ini bukan tatapan dingin dan bermusuhan. Dan omong omong, Alex juga tidak marah-marah karena tidak bisa menghubungi Mia dan terpaksa harus menunggu. Mengherankan sekali.

”Aku ini musisi,” sahut Alex dengan sebersit nada angkuh dalam suaranya. ”Tentu saja aku tahu semua jenis lagu dan musik.”

Mia ingin membalas bahwa bukan musisi saja yang perlu tahu tentang musik. Penari juga perlu. Tetapi saat itu Alex berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari deretan kursi penonton, jadi Mia mengurungkan niatnya dan menyingkir sedikit untuk memberi jalan.

Alex keluar dari teater dan Mia mengikutinya dari belakang. ”Jadi kau sudah bertemu dengan gurumu?” tanya Mia berbasa-basi sambil mengenakan jaket luarnya.

Alex mengangguk. ”Sudah.”

”Gurumu masih ingat padamu?”

”Tentu saja,” sahut Alex dengan nada tersinggung, seolah-olah semua orang di Juilliard pasti tahu siapa dirinya.

Mia tidak berkomentar.

Alex ragu sejenak, lalu akhirnya bertanya, ”Yang tadi itu guru tarimu?”

Mia melirik Alex. Sungguh, laki-laki itu agak berbeda hari ini. Ia mengajaknya mengobrol, padahal biasanya ia hanya akan bicara dengan kalimat pendek dan seperlunya. Sepertinya suasana hati Alex Hirano sedang baik hari ini.

”Ya,” sahut Mia singkat. ”Salah satunya.”

”Dia sangat memujimu tadi.”

”Benarkah?” gumam Mia sambil lalu.

Alex menoleh menatapnya. ”Katanya kau salah satu penari terbaiknya.”

”Oh ya?” Mia mengangkat bahu. ”Banyak penari lain yang lebih baik dariku. Omong-omong, kau mau pergi ke mana sekarang? Pulang? Bagaimana kalau kau tunggu di pintu depan dan aku akan pergi mengambil mobil…”

Alex menggeleng dan menyela, ”Aku belum ingin pulang.”

”Oh? Lalu kau mau pergi ke mana?”

Alex berpikir sejenak. Lalu sekali lagi seulas senyum samar tersungging di bibirnya dan ia berkata, ”Toko musik.”



why we are???


terkadang aku berfikir..
seandainya hidup itu bisa memilih
aku ingin sekali bahgia
aku tidak menyesal dengan keadaan yang menimpaku..
aku tidak mengeluh ataupun mengaduh akan hidupku ini

hanya saja...

aku terlalu lemah dengan keputusan ini
dengan takdir ini..

aku terlalu kecil dengan beban sebesar dan seberat ini..

mengapa aku ????

mengapa harus kami yang merasakan ini ??

jika harus berakhir dengan air mata kenapa dulu aku mengenalnya..

jika harus berakhir luka mengapa aku teramat mencintainya...

aku tidak berdaya..


ku pandangi foto itu


"Aku dan segala yang ku inginkan dalam hidupku"

nafasku tercekat tiap membaca kalimat yang kau tulis

aku tidak kuat !!!
ku remaskan tangan ke dadaku
berharap rasa sakit itu hilang
tapi sia-sia...
rasa sakit itu tetap bertahan disana..

aku berlari
menjerit

berharap kenangan-kenangan itu tidak mendapat celah untuk menyusup kedalam otakku


"Mengapa tak kau ajak adik mu ini ke surga ???!!!!" isak tara pilu

tatsuya aku merindukanmu


Tatsuya, kemari!
Ayo kita pergi ke taman.
Kita liat pohon-pohon yang berguguran.
Sekalian aku ingin menghabiskan hari-hari hanya bersamamu.

Tatsuya...
Ayo kita pergi!

Kenapa kamu malah diam.
Ayo bangun! Jangan tutup matamu.
Kau tidak lihat? Betapa indahnya musim gugur ini.
Ayo kita mengelilingi kota Paris.
Tatsuya, kumohon...
Ayo ikut aku.
Tatsuya, buka matamu.


Tetesan air membasahi wajahku.
Aku kemudian terbangun.
Oh tidak, itu hanya mimpi.
Ku tarik nafas dalam-dalam.
Tatsuya sudah pergi, Tatsuya sudah tiada.
Kemana harus kucari Tatsuya?

Ke taman?
Tak kutemukan dia disana.
Ke apartemennya?
Tidak ada juga.

Seseorang berkata padaku:
"Tara, beberapa malaikat sudah membawa Tatsuya pergi.
Kurasa, dia akan bahagia. Karena itu, kamu harus berbahagia juga. Kejarlah kebahagiaanmu, Tara."

Kuterdiam.
Malaikat? Mendengar kata itu aku lega. Aku lega karena pada akhirnya kamu berada di tempat yang seharusnya, yaitu... Surga.

Satu hal yang kurasakan sekarang adalah,
Aku merindukanmu, Tatsuya.
Tunggu aku disana.
Tunggu aku bersamamu di Surga kelak.



from tara to tatsuya


Dear Monsieur,

Apa kabar kau disana? di dunia barumu? apa kau baik-baik saja disana? adakah wanita cantik bertebaran disana? adakah bangunan-bangunan yang biasa kau rancang berdiri disana? apa kau suka tempatmu sekarang? Dan, apakah kau masih mampu mengingatku sebagai kekasihmu, dan bukan adikmu?
Monsieur Tatsuya,
Jujur, Aku rindu padamu. Setiap kali aku menangis karenamu, aku hanya mampu berfikir jernih pada satu hal. Yakni “Aku dan segala hal yang kuinginkan dalam hidup…”, persis seperti apa katamu dalam balik foto kita.
Aku sudah melihat semuanya. Apartemenmu… rak yang berisi buku-bukumu… ruang kerjamu… kamar tidurmu… bayanganmu… jaket dalam lemarimu… hasil foto mu… juga semua e-mail mu dengan sebastien di laptopmu. Semuanya aku sudah melihat.
Kau tau Tatsuya? bagaimana rasanya menjadi diriku sekarang. Hatiku perih, hatiku sakit, hatiku seakan ingin membunuhku. Kadang aku berfikir, sangat beruntung menjadi dirimu. Disana, aku yakin kau bahagia. Meski tanpa aku, dan kehidupan Paris selayaknya.

Tatsuya Fujisawa, aku ingin menulis banyak untukmu. Segalanya.
Tapi, aku terlanjur mengingkari janjiku.
Aku tak pernah bahagia setelah hari itu,
“Jangan marah padaku kalau aku menangis… Hari ini saja … Kau boleh lihat sendiri nanti. Kau akan lihat tidak lama lagi aku akan kembali bekerja, tertawa, dan mengoceh seperti biasa … Aku janji.”
Ingat perkataanku itu Tatsuya ? Dan kini kau boleh marah, karena aku mengingkarinya. Aku membuatmu kecewa, kau boleh marah. Kau boleh. Tapi jangan menangis, didepan aku atau tidak. Jangan pernah menangis.
Selama ini, aku tak pernah melihatmu menangis, tapi hatiku mampu merasakan sakit karena itu. Aku tak bisa membayangkan apabila yang kulihat adalah kau benar-benar menangis. Orang tahu Tatsuya, orang tahu kau adalah orang yang tegar, kau adalah orang yang mampu memperbaiki keadaan. Tapi jangan katakan teori orang terhadapmu itu padaku, aku tak akan pernah mempercayainya. Aku terlalu bodoh untuk menyebutmu orang yang tegar. Aku .. aku..aku tak mampu meneruskan kata-kataku ini.
Tatsuya Fujisawa, boleh aku menjawab e-mailmu pada Je me Souviens…?
Bolehkan aku, dan aku menjawabnya sekarang.
“Apakah ada yang tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai ?”

Itu bukan ? pertanyaanmu?
Kau menjawabnya, kau menjawabnya sendiri, “Aku tahu.”
Tapi tak hanya kau yang mampu menjawab itu, aku juga mampu, “Aku juga tahu.
Hanya itu saja yang ingin kujawab, aku tak pernah ingin melihatmu sedih disana hanya karena sebuah surat bodoh dariku ini.
Dan satu hal lagi, aku akan membalas satu kata-kata dalam e-mailmu di radio,
“Sekarang, saat ini saja, untuk beberapa detik saja, aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal-usul serta latar belakangku. Tanpa beban, tuntutan, ataupun harapan, aku ingin mengaku.
Tatsuya Fujisawa, Aku mencintaimu. Bukan sebagai kakak ku. “
Pesanku, jangan menangis disana. Jangan memanggilku disana. Jangan ucapkan namaku disana. Jangan membayangkanku disana. Jangan memikirkanku disana. Jangan. Berbahagialah disana. Ditempat dimana suatu saat aku juga akan menyusulmu, Tatsuya.
Aku mencintaimu.